Langsung ke konten utama

Puisi Sukmaku di Rawa Gede

 SUKMAKU DI RAWA GEDE

Karya

K. SUKARMAN. HD


Kalau ada orang bertanya, " Apakah di sini Markas Gabungan Pejuang?

"Kami katakan, " Bukan, dan tidak ada pejuang disini"

Itu kami katakan kepada Belanda tahun 1947, bahkan . . . . 

Kami teriakan: Bongkar-bongkar dan putuskan jalan Cilempuk

Bongkar-bongkar dan putuskan jalan Palawad

Bongkar-bongkar dan putuskan jembatan Garunggung

Agar setiap penjajah tidak sempai di tempat ini


Tapi kami ternganga dan heran, masih ada pecundang, penghianat

Yang mengabarkan bahwa disini Markas Gabungan Pejuang

Saat itulah... Tepat pukul 04.00 dini hari 9 Desember 1947

Hujan badai turun bersama datangnya kaum imperalis

Murka alam tunjukan kepada kami.


Dengan hadirnya remang-remang cahaya di sela rimbunnya daun

Yang tak ujur terang dari pagi hingga sore.

Apa lagi yang harus kami teriakan ? Pekik merdeka atau jeritan ketakutan,

Ternyata "Pekik Merdeka" yang kami teriakan, dan itu.. .

Kami layangkan, bersama sukma kami ..walaupun

Ratusan tubuh harus menggelepar tak berdaya.Walaupun

Ribuan tubuh dari berbagai sudut negeri harus menjadi gantinya.

Kami rela... karena bungkam atau suara meronta sama saja


Dalam tubuh kami dari mana saja, darah boleh mengalir, tapi disini kami bersatu untuk

berjuang walapun sampai terinjak-injak.

Sejak itu, tampaklah siluet punggung-punggung dan sisi-sisi dari kami, tumpukan tubuh

manusia tak bernyawa lagi.

Mulai hitungan, satu...  Sepuluh... tiga puluh... 

dari ujung ke ujung

Disini di tempat ini... 431 orang gugur sebagai suhada

Tak kenal lagi, rupa dan raganya, tak kenal lagi pejuang atau rakyat biasa menjadi korban

kebuasan dan kebiadaban penjajahan itu Bung, jangan sebut kami kalah .. Jangan tuduh

kami berhianat, dan jangan katakan kami takut


Sungai darah kami, menjadi bukti pengorbanan dan pengabdian... Bangsaku, kalian boleh

lupakan kami, kalian boleh tak ingat kepedihan yang kami derita.

Tapi. jangan abaikan generasi penerus semangat bakti kami, sukma-sukma kami akan

tetap membara pada setiap tetes darah yang mengalir, dalam tubuh penerus kami, walau

setetes kalian bangsaku telah kalian tunjukan kepada kami, dengan menetapkan kami di

tempat yang sejuk, ditempat yang layak di tempat yang terhormat, di tempat Sampurna

Raga Rawagede.

Kini, kami telah berbaring lemah, hanya tinggal bekas-bekas, semaraknya semangat gelora

perjuangan, yang tak bisa lagi bicara apa-apa dan kini kalau ada orang bertanya,

Siapakah yang berbicara tentang itu, inilah Sukmaku di Rawagede

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Suddenly

One night when I came home from work. At that time the road was quiet. In the mid of journey, suddenly from a distance near the crossroads I saw a boy. I saw him waving at me as if he wanted to say something. When a few steps I tried to approach him, but I turned away and chose to turn back and walk faster to leave the place immediately. I continued the journey while overshadowed by thoughts that were either guilt or fear. While I was continuing the trip, I continued to pray "hopefully nothing bad will happen" When I arrived at the boarding house, I took my Handphone from the bag to check what time was it? The time was 11 o'clock from my Handphone screen, but there are things that make me weird from the Handphone screen. Dozens of unanswered calls, I don't usually find missed calls up to tens of times, even those who don't answer. Since it was late and I felt very tired, I was not too caring and immediately went to sleep. The next day, I also find out what hap...

Lirik lagu Liar Angin - Feby Putri

  Liar Angin Tak sejalan langkah bersama Bertujuan tak satu arah Utuh dalam perasaan Harap kenyataan memihak Jumpa ria dengan sang terang Menuntunku dalam padam Terdengarkah disini Masih terbalut harapan dan tanya Liar angin tak berarah pun tak mampu Sampai pesan yang berteduh di hati yang sepi Di ujung hamparan banyak kita banyak kata Tertahankan oleh waktu yang terus berjalan Bahkan semesta tertawa Ha ha haa aaa Tak terlihat tak terdengar Harap kenyataan memihak Jumpa ria dengan sang terang Menuntunku dalam padam Masih terbalut harapan dan tanya Pada akhirnya Harap dan tanya Terekam di ingatan Jemari pun bergerak mengungkapkan Pada akhirnya Liar angin tak berarah pun tak mampu Sampaikan pesan yang berteduh di hati yang sepi Di ujung hamparan banyak kita banyak kata Tertahankan oleh waktu yang terus berjalan Bahkan semesta tertawa Ha ha haa aaa Tak terlihat tak terdengar Ha ha haa aaa bahkan semesta tertawa Ha ha haa aaa Banyak kita banyak kata Ha ha haa aaa Bahkan semesta tertawa...